Psikologi Faal

Pengantar Ilmu Penyakit Anak

ILMU KESEHATAN ANAK

WAWASAN / LINGKUP ILMU KESEHATAN ANAK

1. Ilmu penyakit anak

2. Cabang ilmu penyakit daalam

3. Sehat

4. Organ sakit, gangguan tumbuh kembang, fisis, intelektual, dan social.

5. Anak tidak dapat disamakan dengan seorang dewasa kecil.

MASALAH UTAMA KESEHATAN ANAK

1. Berbeda tiap Negara.

2. Negara maju: keganasan, kecelakaan, kelainan genetic, gangguan pertumbuhan intrautnin, gangguan psikososial.

3. Negara berkembang: Infeksi, infeksitasi parasit, dan kurang gizi.

4. 4 masalah utama kurang gizi:

o Mal nutrisi energi protein

o Diet vitamin A.

o Defesiensi besi.

o Penyakit gondok akibat defesiensi yodium.

LIMA PENYEBAB KEMATIAN BAYI

NO 1980 1985
1 Diare 24,1% Diare 12,2 %
2 Tetanus 20,1 % Tetanus 13,3 %
3 Infeksi saluran nafas 22,1% Infeksi saluran nafas 10,3 %
4 Kel. Perinatal 9,5 % Kel. Perinatal 13,2 %
5 Penyakit neurologik 7,5 % Penyakit neurologik (-)

Kesimpulan: Morbilitas dan mortalitas bayi dan anak masih tinggi.

Penyebab utama:

1. Lingkungan yang kurang menunjang.

2. Pelayanan kesehatan yang kurang memadai.

3. Keadaan social/ ekonomi/ budaya masyarakat/

4. factor perilaku

Faktor perilaku

Lingkungan Penyakit genetic

Di Indonesia

1. Lingkungan kurang menunjang.

2. Tingkat pendidikan rendah.

3. Kesadaran terhadap kesehatan masih rendah.

DI Makassar ? Dirumah ?

INDIKATOR DASAR KESEHATAN

1. Angka kematian bayi.

2. Angka kematian balita.

3. Grous national product/kapita.

4. Umur harapan hidup.

5. Tingkat melek hidup.

TINGKAT KESEHATAN NASIONAL (SKN) TAHUN 1982

Tujuannya:

1. meningkatkan kemampuan masyarakat.

2. Meningkatkan mutu lingkungan hidup.

3. Meningkatkan status gizi masyarakat.

4. Menurunkan kejadian morbilitas dan mortalitas.

5. Pengembangan keluarga sejahtera.

6. Pencegahan dan pengelolaan penyakit endemic.

7. Tersedia obat essensial.

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP ANAK MENYONGSONG ABAD 21 (KONIKA 1999) JAKARTA

Prakiraan penyakit anak Indonesia diabad ke-21 dan tantangannya.

o PJP II (1994 – 2018).

o Transisi epidemiologi.

o Krisis moneter.

o Perubahan pola penyakit penyebab — infeksi — kardiovaskuler

degeneratif, keganasan, cidera, keracunan, sakit jiwa, perubahan perilaku.

PJP I

Angka kematian bayi (AKB)

1967. 145/1000 dengan harapan hidup 45,7 tahun.

1997. 41/1000 dengan harapan hidup 64,25 tahun.

1997 — krisis moneter — krisis politik — krisis kepercayaan.

1996 jumlah orang miskin 11% (22 juta)

1998 jumlah orang miskin 79 juta.

Keluarga rawan = ibu, anak dan usila (usia lanjut).

Pendapatan dan daya beli menurun.

Tahun 1997 jumlah balita 20 juta (9,7% dari total penduduk Indonesia).

Angka Kematian Bayi (AKB) = 0 – 1 tahun 41/1000.

Angka Kematian Balita = 1 – 4 tahun 13,1/1000.

Menurut BLOEM

Lingkungan

Perilaku Sehat Genetik

Yankes

Masalah:

§ Faktor lingkungan

§ Perilaku

§ Mutu dan cakupan

Tahun 1997 BCG 99,6%

Polio total 89,5%

o Pertolongan lahir oleh tenaga kesehatan 59%.

o Yankes bayi lahir 69,8 %.

o 75,9% vitamin A I, dan 79,4% VItamin A II.

Anak balita (0 – 4 tahun) 1995.

o Pernapasan 30,8%

o Perinatal 21,6%

o Diare 15,3%

o Infeksi/parasit 6,3%

o Syaraf 5,5%

o Tetanus 3,6%

REMAJA

BPS menikah 10 – 14 tahun 29%

17 – 18 tahun 28%

Prevalence cacingan 60 – 90%

Gizi + anemia 30 – 40% (usia sekolah).

Dampak krisis

Ø Pelayanan yankes

Ø Demand (ketergantungan) yankes.

Penanggulangan penyakit juga berpengaruh terhadap: – promotif (promosi)

– preventif (pencegahan)

Upaya dalam krisis — program penyelamat — bantuan — JPS — kartu sehat.

1. Yankes dasar Cuma-Cuma (miskin).

2. Yankes dasar hamil, bersalin dan nifas.

3. Pemberian makanan tambahan (PMT) bayi 6 bulan sampai 24 bulan, hamil, menyusui + miskin.

4. Revitalisasi system kewaspadaan pangan dan gizi (SK P6).

5. Revitalisasi posyandu (tingkat balita).

6. Intensifikasi JPK.

Lain-lain (tingkat tumbuh kembang)

a. Promosi ASI eksklusif (0 – 6 bulan).

b. Imunisasi lengkap dibawah 1 tahun.

c. Deteksi dan stimulasi tingkat balita.

d. PMT (pemberian makanan tambahan).

e. BIAS (bulan imunisasi anak sekolah).

f. UKS.

g. Penanggulangan diare, ispa, cacingan.

h. GAKI (gangguan akibat kurang yodium).

VISI INDONESIA SEHAT 2010

1. Penggerak pembangunan sehat berwawasan kesehatan.

2. Meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

3. Meningkatkan YANKES bermutu, merata dan terjangkau.

4. Meningkatkan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.

Angka kematian diberbagai Negara

NO Penyakit Indonesia Negara berkembang Lain-lain
1 Infeksi 43,1 45,0 4,6
2 K .U 16,6 17,1 53,7
3 Neoplasma 4,5 6,6 20,8
4 Perinatal 7,2 8,4 0,9
5 Masalah persalinan 1,8 1,3 0,0
6 Cedera 5,0 6,3 7
7 Lain-lain 21,8 15,3 13

Masalah saat ini:

* Kurang gizi dan mikronutrien

* Faktor non kesehatan

– Anemia pada anak.

– BBLR (dibawah 250 gram).

– Angka kematian ibu hamil 373/100.000 diatas 50% anemia.

PENDAHULUAN

§ Anak — bukan manusia dewasa kecil.

§ Jumlah anak 0 – 14 tahun ialah ukuran dari kedudukan suatu Negara.

§ Batas antara negara maju dan sedang berkembang adalah 40%.

Jika jumlah anak 0 – 14 tahun kurang dari 40% — Negara maju.

Jika lebih dari 40% — Negara sedang berkembang.

§ Maju tidaknya suatu negara tergantung pada kualitas dari generasi muda.

§ Pertumbuhan dan perkembangan suatu factor yang berperan dalam pembentukan kualitas anak.

PERTUMBUHAN (G/GROWTH) DAN PERKEMBANGAN (D/DEVELOPMENT) ANAK

§ Ciri khas dari anak.

§ G dan D mulai sejak konsepsi (bertemunya sel telur dan sel sperma) dan berlangsung terus sepanjang prtumbuhan anak.

§ Kecepatannya tidak selalu lama pada tiap masa.

§ G & D jalan bersama-sama.

§ G — penambahan ukuran (BB,TB).

§ D — penambahan fungsi (kematangan, keterampilan).

MASA ANAK DAPAT DIBAGI SEBAGAI BERIKUT:

1. Masa prenatal — masa intrautnin (masa dalam rahim /0 – 9 bulan).

2. Masa neonatal — umur 4 minggu pertama.

3. Masa bayi — umur 1 bulan – 1 tahun.

4. Masa prasekolah — umur 1 tahun – 6 tahun.

5. Masa sekolah — umur 6 tahun – 10 tahun.

6. Masa remaja (pubertas)

* Umur 10 tahun – 18 tahun (perempun).

* Umur 12 tahun – 20 tahun (laki-laki).

PERTUMBUHAN / GROUTH = G

§ Proses bertambahnya ukuran tubuh karena bertambahnya sel-sel, dapat diukur, misalnya TB dalam cm, dan BB dalam kg.

§ G. cepat sekali dalam tahun pertama, kemudian berkurang secara berangsur-angsur sampai umur 3-4 bulan.

§ G. yang berjalan lamban dan teratur sampai masa akil balik.

§ G. cepat pada masa akil balik (12 – 16 tahun).

§ G. dapat dinilai dengan mengukur BB & TB (kars) juga LK (lingkar kepala), LD (lingkar dada), LLA (lingkar lengan atas), jumlah gizi dan umur tulang.

§ Masa pertumbuhan terdiri dari:

a. Masa embrio (trimester I masa kehamilan).

Proses terbentuknya system alat dalam tubuh mengalami G. yang cepat.

b. Masa janin dini (trimester II masa kehamilan).

G. bertambah cepat dan sempurna.

Alat-alat tubuh telah terbentuk dan mulai berfungsi.

c. Masa janin akhir: massa tubuh bertambah cepat (3000 – 3500 gram).

d. Masa neonatal.

– Terjadi penyesuain (sirkulasi dengan keadaan lingkungan, orok mulai bernapas, alat lain mulai berfungsi, BB sampai 10%, dan kembali tercapai pada hari ke-14).

e. Masa bayi

– Pada umur 1 bulan – 1 tahun — G & D cepat, fungsi alat bertambah, terutama system saraf.

– Dari umur 1 tahun sampai 2 tahun pertumbuhan menurun, kemajuan dalam berjalan, kegiatan motorik dan pengaturan fungsi ekskresi.

f. Masa prasekolah (umur 2 – 6 tahun).

Pertumbuhan terlambat, kegiatan fisik bertambah, mekanisme motorik bertambah, cepat menerima pelajaran.

g. Masa sekolah

Pertumbuhan tetap, berkembangnya keterampilan dan proses intelektual.

h. Masa akil balik

  • · Masa akil balik wanita umur 10 – 18 tahun, laki – laki umur 12-20 tahun.
  • · Perubahan dari masa anak – dewasa.
  • · Percepatan tumbuh tinggi dan BB.
  • · Timbul tanda-tanda kelamin sekunder.
  • · Perlunya kepercayan diri sendiri dan kebebasan dan perkembangan fungsi alat kelamin.

PERKEMBANGAN

§ Proses D. sudah mulai sejak masa prenatal.

§ Sampai umur 8 minggu janin masih pasif.

§ Umur 12 minggu mulai gerakan tangan dan kaki.

Tingkat D. anak setelah lahir sebagai berikut:

o Umur 1 bulan: Mengangkat dagu, menggerakkan pandangan.

o Umur 2 bulan: Menoleh kekiri dan kekanan, tersenyum spontan.

o Umur 3 bulan: Mengangkat kepala dan dada bila ditengkurapkan, meraih benda yang diberikan.

o Umur 4 bulan: Tangan terbuka, tertawa.

o Umur 5 bulan: Kepala tetap tegak bila didudukkan, meraih benda-benda jauh, mendengarkan suaranya.

o Umur 6 bulan: Berbalik sendiri, mengambil mainan dari meja.

o Umur 7 bulan: Badan tegak bila didudukkan, dapat makan biscuit sendiri, bersuara ”da da”.

o Umur 8 bulan: Duduk sendiri, memindahkan mainan dari tangan satu ketangan lain.

o Umur 9 bulan: Merangkak, berusaha berdiri dengan pegangan.

o Umur 10 bulan: Berdiri dengan bantuan, menyentukkan mainan yang satu kemainan yang lain, dapat bersuara ”mama, da da”.

o Umur 11 bulan: Berjalan dengan bantuan 2 tangan.

o Umur 1 tahun: Berjalan dengan bantuan 1 tangan, memasukkan benda kedalam cangkir, mengucapkan 2 atau lebih perkataan.

o Umur 14 bulan: Berjalan sendiri, mengenal nama sendiri.

o Umur 15 bulan: Berjalan naik tangga, minum dari cangkir.

o Umur 18 bulan: Duduk sendiri dikursi kecil, menyusun menara, perbendaharaaan kata 20 perkataan.

o Umur 2 tahun: Berlari, membuat garis lurus dengan pensil, mempunyai perbendaharaan kata 250 kata dan membuat kalimat-kalimatnya.

o Umur 4 tahun: Berjinjit, menggambar orang, membuat pintu gerbang dengan 5 kubus, mengetahui kata tambahan, memakai kata penghubung, dapat mencuci muka dan disuruh mengerjakan sesuatu.

o Umur 5 tahun: Berjinjit dengan kaki berganti-ganti, dapat menghitung 10 sen, berbicara lancar, bertanya mengapa? Dapat memakai pakaian tanpa bantuan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI G. & D.

I. Keturunan.

Keturunan menentukan kemampuan bawaan atau bakat.

a. Ras/suku bangsa: Ras negro atau kulit kuning mempunyai kecenderungan lebih pendek daripada ras kulit putih.

b. Jenis kelamin: – Laki-laki cepat mencapai besar dan tinggi.

– Perempuan cepat dewasa secara fisik maupun sosial.

c. Keluarga: Tidak jarang dalam satu keluarga dijumpai anggota keluarga yang pendek atau keluarga lainnya tinggi.

II. Hormon

Hormon mempengaruhi G. & D pada masa prenatal — posinatal.

Beberapa macam hormon:

1. Hormon dari hipofise: mempengaruhi G. dalam hal jumlah sel tulang.

2. Hormon thyroid: Mempengaruhi G. dan pematangan tulang.

3. Hormon kelamin lelaki di testis.

Hormon perempuan dikelenjar suprarenalis.

III. Lingkungan

a. Gizi: Paling berpengaruh pada tahun-tahun pertama kehidupan anak.

Kalori dan protein menentukan cepat/lambatnya maturitas.

b. Sosial ekonomi: Rendah — mempengaruhi pertumbuhan anak.

c. Penyakit-penyakit: Penyakit menahun & penyakit jantung bawaan — keterlambatan pertumbuhan.

d. Lain-lain: Pendidikan, perbaikan sanitasi.

IMUNISASI

§ Defenisi: Adalah suatu cara untuk mencegah penyakit menular dengan sengaja memberi perlindungan (kekebalan) atau imunitas kepada anak sehingga anak itu jika dihinggapi kuman penyakit tidak sampai meninggal atau menderita cacat.

Secara singkat dikatakan bahwa anak yang telah mendapat kekebalan akan menimbulkan reaksi terhadap kuman penyakit.

a. Tidak menderita sakit.

b. Sakit tetapi ringan sehingga telah mengakibatkan cacat ataumeninggal.

Pada tahun 1974 di Indonesia mulai disusun suatu pedoman tentang program pengembangan imunisasi (PPI) sampi sekarang.

§ Dasar-dasar imunologi.

– Mekanisme pembentukan kekebalan setelah memperoleh imunisasi yang mengandung virus ternyata sama dengan mekanisme yang ditimbulkan oleh virus bersangkutan apabila menimbulkan penyakit.

– Masuk antigen kedalam tubuh menimbulkan zat anti (antibody).

§ Vaksin DPT dibagi 5 jenis:

1. Toxoid: Difteri, tetanus.

2. Vaksin yang mengandung bakteri mati: pertusis, tipoid, kolera.

3. Vaksin yang mengandung bakteri yang dilemahkan: BCG.

4. Vaksin yang mengandung virus hidup yang dilemahkan: polio oral, influenza, measles, gondongan.

5. Vaksin yang terdiri polisakarida: meningokokus, pneumokokus.

§ Macam-macam vaksin:

1. BCG (Basiles Calmette Guarin).

– Tujuan: menurunkan TBC secara langsung & TBC dewasa secara tidak langsung.

– Mengandung kuman hidup dalam bentuk froeze dried sehingga harus dilarutkan.

– Cara imunisasi: Intrakutan (kedalam kulit).

– Dosis Primovaksinasi : Umur dibawah satu tahun 0,05 cc.

Umur diatas satu tahun 0,1 cc.

Revaksinasi: Umur 5 – 7 tahun 0,1 cc.

Umur 12 – 15 tahun 0,1 cc.

– Reaksi yang timbul:

a. Jaringan parut setelah mendapat vaksinasi.

b. Kadang-kadang pembesaran kelenjar getah bening.

c. Kadang pernanahan dari kelenjar getah bening.

– Syarat vaksinasi BCG:

a. Jangan menggunakan vaksin yang telah kadaluarsa.

b. Vaksin harus digunakan paling lama tiga (3) jam setelah dilarutkan.

c. Vaksin harus dilindungi dari sinar matahari dan sumber panas lain.

d. Suntukan betul-betul intrakutan.

e. Dosis yang diberikan, harus sesuai dengan umur.

– Kontra indikasi: Penyakit kulit berat/menahun seperti ekseni, furunkel dll.

2. Vaksin DT (Difteri – Tetanus).

DTP (Difteri – Tetanus – Pertusis)

– Tujuan: Memberikan perlindungan terhadap penyakit difteri, tetanus dan pertusis.

– Dosis: 0,5 cc.

– Cara pemberian: Secara subkutan yang dalam atau intramuskuler di lengan atau paha.

a. Primovaksinasi: Vaksin harus diberikan paling kurang 2 x (dua kali) berturut-turut dengan interval waktu 4 – 6 minggu, lebih lengkap pemberian 3x (tiga kali) berturut – turut.

b. Revaksinasi:

* 1,5 tahun setelah imunisasi dasar 0,5 cc.

* Sebelum masuk SD 0,5 cc.

* Setiap 5 tahun sampai umur 15 tahun dengan dosis 0,5 cc.

– Reaksi vaksinasi:

* Pembengkakan, kemerahan ditempat suntikan dan sedikit rasa sakit.

* Demam – tinggi – kejang (dapat diberikan obat penenang dan penurun panas)

– Kontra indikasi: Kelainan susunan saraf pusat dan kelainan saraf bawaan atau didapat.

3. Vaksin poliomilitis

* Ada 2 macam vaksin polio untuk pencegahan:

a. Vaksin yang mengandung virus polio yang telah dimatikan (salk) dan diberikan persuntik.

b. Vaksin yang mengandung virus polio yang telah dilemahkan (sabin) diberikan peroral.

* Cara imunisasi:

a. Imunisasi dasar: Diberikan 3 dosis bersamaan DPT.

b. Revaksinasi:

– Untuk vaksin salk setiap 1 – 2 tahun.

– Untuk vaksin sabin 2 tahun setelah imunisasi dasar terakhir.

* Kontra indikasi:

a. Vaksin hidup

– Kelainan imunologis.

– Mendapat reaksi kortikusteroid atau imunosupresif

– Menderita leukimia atau keganasan lain.

– Menderita infeksi usus, demam, penyakit menahun.

Syarat vaksin:

* Jernih dan berwarna orange, jika warnanya menjadi merah jambu atau keruh, vaksin harus dibuang.

* Pada waktu meneteskan vaksin kedalam mulut sendok, ujung pipet jangan menyentuh mulut atau sendok.

* Vaksin benar-benar ditelan oleh anak, bila tidak diberikan 2 tetes lagi.

* Vaksin sangat peka pada panas, harus disimpang dalam lemari atau frezer.

b. Vaksin mati: Tidak ada kontra indikasi.

4. Virus measles (campak)

~ Tujuan: Mencegah penyakit campak.

~ Dosis: 0,5 cc.

~ Pemberian: Subkutan.

~ Cara imunisasi: 0,5 cc subkutan pada anak umur 9 – 12 bulan.

~ Syarat vaksin

– Vaksin dalam bentuk frezer dried harus disimpan dalam lemari es suhu 280c.

– Vaksin tidak boleh kena sinar matahari.

– Jika terpaksa dilakukan pada usia 9 bulan, revaksinasi harus dilakukan usia 12 bulan.

– Begitu dilakukan harus segera dipakai.

5. Vaksin hepatitis B

Tujuan: Mencegah penyakit hepatits.

Pemberian: Intra muskuler (IM).

Cara imunisasi: 1,5 cc intra muskuler pada anak usia 0 bulan, 1 bulan, dan 6 bulan dipaha.

SISTEM PENCERNAAN

Alat pencernaan: mulut — oesophagus — gaster — usus halus — usus besar —

rectum —anus.

DIARE

Diare adalah BAB yang terjadi pada bayi/anak, sebelumnya sehat, frekuensi diatas atau sama dengan 3 (tiga) kali sehari, tinjanya encer dengan/tanpa lendir dan darah.

¨ Etiologi:

* Virus (rotavirus)

* Bakteri (vibrio kolera, shigelledisentri, E. coli)

* Jamur (candidosis)

* Parasit (disentri amoeba)

¨ Lamanya:

1. Akut kurang dari 7 hari

2. Diare melanjut (7 hari – 2 minggu)

3. Diare kronik diatas 2 minggu

– Diare akut dehidrasi ringan

– Diare akut dehidrasi sedang

– Diare akut dehidrasi berat

Penilaian status dehidrasi

Yang dinilai ringan sedang berat
Keadaan umum Rewel Apatis Somnolen
Rasa haus Mau minum (+) (-)
Turgor kulit Baik (-) Rendah Rendah sekali
Berat Badan 2,5% 5 – 10 % Diatas 10%

Catatan:

Kesadaran dibagi atas:

a. CM = Composmentis (sadar betul)

b. Apatis = Cuek

c. Somnolen = rasa sakit sedikit (tertidur)

d. Sopor = rasa sakit (sentuhan yang keras baru ada reaksi)

e. Koma = tidak ada respon

f. Mati

¨ Fatofisiologi:

– Toksin menempelk pada villi sehingga absorpsi terganggu.

– Intoleransi laktosa — Enzym lactase kurang.

¨ Gangguan klinik (dehidrasi):

o Mulut kering

o Mata cekung

o Air mata (-)

o Lidah kering

o Turgor kulit turun

o Demam (+)

o Muntah

¨ Pemeriksaan lab:

* Feses rutin * Endoskopi * A G D (Analisa gas darah)

* Analisa faeces * U S G * Urin

* Kultur resistersi * Biopsi * Gula darah

¨ Terapi:

– Tanpa dehidrasi — oralit 10 cc/kg BB/setiap BAB

– Ringan sedang — oralit 75 cc/kg BB/3 jam

– Berat — infuse Ka En 3B /RL

Komposisi elektrolit pada balita:

Na K Cl HCO3
Kolera 101 27 92 32
Non kolera 56 25 55 14
Oralit 90 20 80 36

¨ Patogen penyebab diare:

1. Rotavirus 15 – 25%

2. ETEC (Entero toksigenik eskero coli) 10 – 20%

3. Shigella 5 – 15%

4. Caropylobacter 10 – 15%

5. Vibrio cholera 5 – 10%

6. Salmonella 1 – 5%

7. EPEC (Entero patogenik eskera coli) 1 – 5%

Penilaian status dehidrasi (terbaru):

Yang dinilai Tanpa dehidrasi Ringan/sedang Berat
Keadaaan umum Normal Rewel Apatis/somnolen
Minum Mau Haus Tidak mau
Turgor Baik Lambat Sangat lambat
BB Dibawah 2,5% 2,5 – 10% Diatas 10%

Diare akut murni: RL/Ka En 3B 30cc/kgBB/1jam dibawah atau sama 12 bulan

70cc/kgBB/5jam diatas atau sama 12 bulan

70cc/kgBB/8 jam diatas 12 bulan

¨ Diare akut dan penyakit penyerta:

Kejang, encephalitis, meningitis, GGL jantung.

Ka En 3B (4/5nya) 48cc/kgBB/4 jam

152cc/kgBB/8 jam

¨ Pemberian antibiotik :

~ Vibrio cholerae: Oksi tetra 40 – 50 mg/kg BB/hari, selama 3 hari 3x.

~ Shigella disentri: Kotrimoksasol 3 – 4mg/kg BB/hari 2x/hari.

~ Campylobacter (disentri): Entra 10mg/kg BB/hari.

Max 500mg/dosis, 4x/hari (5-7hari)

~ E. Histolitika, G. Lamblia: metro 30 – 50mg/kg BB/hari selama 10 hari.

PEMERIKSAAN FISIS PADA ANAK

§ Anamnesis: — Auto anamnesis

— Allo anamnesis

§ Bagian-bagian anamnesis:

o Indentitas pasien

o Riwayat penyakit sekarang

o Riwayat penyakit terdahulu

o Riwayat kehamilan ibu

o Riwayat kelahiran

o Riwayat makanan

o Riwayat imunisasi

o Riwayat tumbuh kembang

o Riwayat keluarga – penyakit keluarga. Misal: DM dll

o Corak keluarga

o Corak lingkungan rumah

§ Anamnesis penting untuk:

* Diagnosis

* Tatalaksana

¨ Penuntun untuk pemeriksaan penunjang

¨ Riwayat pasien dari kandungan sampai saat diwawancarai

¨ Anamnesis: – Riwayat yang rinci dan sistematis penyakit sekarang

– Status kesehatan

– Status tumbuh kembang (TK)

¨ Catatan kaki akhir anamnesis

¨ Keluhan utama — Riwayat perjalanan penyakit

§ Cara pendekatan dan pemeriksaan

o Inspeksi: – umum

– Lokal

o Palpasi

o Perkusi: – Sonor (paru-paru)

– Pekak (hati)

– Timpani (pneumotoraks/diatas lambung)

o Auskultasi: – Membran

– Diafragma

§ Pemeriksaan penunjang

* Keadaan sakit (facies, posisi)

* Kesadaran

* Status gizi

§ Tanda Vital

– Nadi (80 – 140 untuk anak-anak)

– Tekanan darah

– Pernapasan

– Suhu

§ Data antropometrik

– BB – LLA (lingkar lengan atas) – Tebal lipatan kulit

– TB – LK (lingkar kepala)

* Kulit

* Rambut

* Kelenjar getah bening

§ Pemeriksaan umum

Warna kulit: – Sianosis – Kuning (hiperbilirubin)

– Pucat – Mongol spot

Keaktifan: – tungkai dan lengan – akibat luka opersi

– Simetris & asimetris

Tangisan bayi: – melengking

– merintih

Wajah: – sindrom down

– piere robin

– kretinisme

Gizi: – masa kehamilan

– tebal lapisan kulit

– kerutan pada kulit

Wajah: – asimetris

– lakrasi

– paresis N.fasialis

– Fraktur os zigomatikum

Mata: – mikroftalmia congenital

– glaucoma kongenital

– katarak congenital

– konjungtivis congenital

Telinga: law set ears (letak telionga rendah)

Hidung: – atresia koana (lubang tidak ada)

– Napas cuping hidung (N C H)

– Fraktur tulang hidung

– Ensefalokel

Mulut: – Labio (sumbing) guatoskisis

– Granula

– Lidah pada sindrom down

– tanda foote

– Hiper salviasi

Leher: – tumor

– batas pergerakan

– Trauma lahir — paralis pleksus

Breakhialis

– Peredaran muskulus sternokedo mastoideus

– web neck sindroma turner

Dada insfeksi: – Pektus ekskavatum/karinatum
– Simetris/asimetris: – pneumotoraks

– Posesis diafragma

– Hernia

– pernapasan

* Palpasi: Fraktur/ictus — bunyi jantung yang keras (disela iga ke-4 sebelah kiri)

* Perkusi: jarang

* Auskultasi: – laju jantung

– bising jantung

– Hernia diafragma

Abdomen: – Hernia diafragmatik

– Membuncit

– Kembung: – N E C (Necrtican Entero Colitis)

– Perforasi

– omfalokel

– Gastroskisis (tidak ada perut/usus terurai)

– Sindromprone belly (perut tidak ada otot)

– Hati

– limfa

– ginjal

Genetalia eksterna:

* Perempuan

– perdarahan

– Usia kehmilan

* Laki-laki

– Fimosis (ujung penis kecil dan mengalami perlengketan)

– Hiposfadia (lubang penis dibawah/dibelakang)

– Epispadia (lubang penis disebelah atas)

– Skrotum: – Hidrokel (besar berisi cairan)

– Hernia

– Kriptokismus (biji hanya satu, satu masih ada dibagian atas/diperut)

– Ambigus genetalia (2 jenis kelamin)

PEM (Malnutrisi Energi Protein)

o Etiologi:

1. Intake menurun:

* Anoreksia, kelainan iatrogenik

* Kelainan psikologik, muntah

* Trauma, kesadaran menurun

2. Retensi makanan menurun:

* Short bowel, mal absorpsi

* Mal nutrisi intake makanan

* Infeksi kronik, Insuf pangkreas

* Garam empedu menurun

* Bakteri tumbu lampau

3. Pengeluaran makanan meningkat:

* Rapid trasit, muntah, fistula

* Gagal ginjal

4. Kebutuhan makanan meningkat:

Demam infeksi, trauma operasi, stress psikologik

o Khaslioke:

* Paling sering usia 1 – 3 tahun

* Gejala klinik: muka membulat, rambut kemerahan, jarang, mudah dicabut, hepatomegali, oedema tungkai, dermatitis, jaringan lemak tipis, gangguan psikis, cengeng/apatis.

* Antropometri: pertumbuhan fisis terhambat.

* Lab:

– Albumin menurun

– Ratio albumin/globulin terbalik

– Hipokalemi

– Hipo magnesium

* Terapi:

Diet kalori 150 – 175 kkal/kg/hari

Protein 3 – 5 g/kg/hari

Secara bertahap

MARASMUS

o Umur tertinggi pada masa bayi

o Gejala klinik:

– Muka seperti orang tua menderita

– Tulang iga menonjol

– Tulang hipotrofi/atrofi

– Jaringan lemak sedikit

– Gangguan psikis cengeng/apatis

o Antropometri: Pertumbuhan fisik menurun.

o Terapi:

Diet kalori: 150 – 175 kkal/KBB/hari

Protein 3 – 5 g/kg BB/hari

Secara bertahap

XEROFTALMIA (Kekurangan Vitamin A)

Xn : Rabun senja

X1A : Xerosis conjungtiva

X2B : Bercak bitot

X2 : Xerosis kornea

X3A : Ulkus kornea/keratomalasia

<>

X3B : Ulkus kornea/keratomalasia ≥ 1/3 permukaan kornea

X5 : Jaringan parut korneum

XF : Fundus Xeroftalmia

DEMAM TIFOID

Defenisi: Adalah penyakit infeksi saluran pencernaan.

Penyebab: – Salmonella typhy.

– Salmonella paratyphy (A, B, C).

Usia: Usia 2 tahun sampai dewasa.

Penularan: – Makanan atau minuman yang tercemar.

– Oral fekal.

Patogenesis: Salmonella masuk kedalam mulut — ke usus halus — terseraf oleh kelenjar getah bening masuk ke limfa dan hati.

Gejala klinis:

o Demam (sore atau malam hari)

II Minggu I :naik

Minggu II: tetap/rata

I III Minggu III: turun.

o Nyeri kepala

o Anoreksia (tidak mau makan).

o Merupakan penyakit sistemik.

o Mual, muntah.

o Nyeri perut.

o Toxik berat — shock.

o Lidah (coated) berselaput.

o Hepatomegali (pembesaran hati).

o Miyalgia (pegal-pegal).

Komplikasi:

– Perforasi usus (bocor).

– Perdarahan usus

– Peritonitis Sepsis

– Hepatomegali tifosa

– Kematian.

Pemeriksaan penunjang:

o Darah — leukopeni (lekukosit turun).

o Uji serologi: Widal — ≥ 1/40 (+) O (badan)

O — ≥ 1/40 (+)

H — tidak tergantung. H(silia)

Tatalaksana (pengobatan).

~ Bedrest/tirah baring.

~ Isolasi.

~ Kebutuhan cairan disesuaikan

~ Nutrisi — diet lunak.

Farmakologi:

¨ Antipiretik.

– Paracetamol (10 mg/kgBB).

– Asetosal (bintang tujuh).

– Ibupropen.

¨ Antibiotik

– Kloramfenikol (100 mg/kgBB : 4 selama 10 hari). Obat ini merupakan obat pilihan utama.

– Amoksilin (30 – 50 mg/kgBB : 3).

– Ampicillin.

– Cypromoxasin.

– Kotrimoksasol.

DEMAM DENGUE (DD) = DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) = DEMAM BERDARAH FEVER (DHF)

Etiologi: Virus dengue

Patofisiologi: Volume plasma, trombositopeni, system komplemen, respon leukosit.

Gejala klinik:

D D Gejala klinik D B D
++ Nyeri kepala +
+++ Muntah ++
+ Mual +
++ Nyeri otot +
++ Ruam kulit +
0 Syok +++
++ Trobositopeni ++++
+ Nyeri perut +++
++ Hepatomegali +++
0 Perdarahan sal. pencernaan +
++++ Petekia +++

Klasifikasi WHO:

Derajat I: Demam, menifestasi perdarahan uji tourniquet (+)

Dastole + systole

2

Derajat II: Demam, perdarahan spontan dikulit/perdarahan lain.

Derajat III: Kegagalan sirkulasi, obati cepat jangan lambat, kulit dingin, lembab, gelisah.

Derajat IV: Syok berat (N, T tidak teraba).

Laboratorium:

– Trombositopenia.

– Hemokonsentrasi (awal).

Tatalaksana: Infus asering/RL

– Penggantian volume plasma (shock).

– Koreksi metabolic dan elektrolit.

– Sedatif.

– O2

– Transfusi darah.

Komplikasi:

  • · Encefalopati.
  • · DSS (Dengue Shock Syndrome)

Pencegahan:

– Fogging – Vaksin belum ditemukan. – 3 M

INFEKSI SALURAN KENCING (ISK)

Defenisi: Infeksi yang terjadi pada saluran kemih, mulai uretra, buli-buli, ureter, piala ginjal sampai jaringan ginjal.

Infeksi dapat berupa: PNA (pielonefritis akut), PNK (pielonefritis kronik), ISK berulang, Bakteiuria, bermakna/berulang/asimptomatik.

Patofisiologi dan Etiologi:

o Infeksi dapat melalui hematogen (neonatus) / Asending anak-anak.

o Fimosis, alir balik vesika ureter. Uropati obstruktif (bisa tumor, atau batu ginjal), kelainan ginjal dan buli-buli congenital dan Diaper rash (Infeksi saluran kencing karena dermatitis).

o Kuman penyebab: E. Choli, Klibsiella (kuman gram negative), Enterobakter, Proteus pseudomonas, Stafilokokus, Kuman anaerob, TBC, Jamur, Virus, dan bakteri protoplas.

Gejala klinis:

Tergantung umur:

0 – 1 bulan: Gangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah dan diare, kejang, koma, panas/hipotermi tanpa diketahui sebabnya, ikterus (kuning).

1 bulan – 2 tahun: Panas/hipotermi, tanpa diketahui sebabnya, gangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah, diare, kejang, koma, kolik (anak menjerit keras), air kemih berbau/berubah warna, kadang-kadang nyeri perut/kembung/sakit pinggang.

2 – 6 tahun: Panas/hipotermi, tanpa diketahui sebabnya, tidak dapat menahan kencing, polikisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna, diare, muntah, gangguan pertumbuhan serta anureksia.

6 – 18 tahun: Nyeri perut/pinggang, panas tanpa diketahui sebabnya, tak dapat menahan kencing, polikisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna.

Laboratorium:

– Biakan urine: infeksi positif

– Air kemih tampung porsi tengah: biakan (+) jumlah > 105/m, 2 kali berturut-turut.

– Fungsi buli-buli supropubik: setiap kuman patogen yang tumbuh pasti infeksi.

Dugaan Infeksi:

– Urine — piuria (mengandung nanah), Torak leukosit.

– Uji kimia: TTC, Katalase, glukosuria.

Penatalaksanaan:

3 prinsip penatalaksanaan ISK:

o Memberantas infeksi (menggunakan antibiotic).

o Menghilangkan factor predisposisi.

o Memberantas penyulit.

Antibiotika:

– Neonatus — ampicillin, gentamicin, Trombromisin (10 – 14 hari).

– Anak — Kotrimoksasol, Ampicillin, Amoksillin, Amsillin, Sefaloksasin, Asam nelidiksat, Nitrofurontoin.

Komplikasi:

PNK mengakibatkan hipertensi, parut ginjal, gejala ginjal kronik.

SINDROM NEFROTIK (SN)

Suatu keadaan klinis yang ditandai oleh proteinuri, hipotelbumineria, hiperkolesterol, dan edema, kadang-kadang disertai hematuri, hipertensi dan kecepatan glomerulus filtrasi (GFR) menurun.

Jenis sindrom nefrotik:

Sindrom Nefrotik (SN) primer:

Akibat kelainan primer pada glomerulus.

Contoh: SN congenital, SN idiopatik, SN kelainan minimal, SN kelainan PA (patologi anatomi).

Sindrom Nefrotik (SN) sekunder

o Penyakit keturunan: Diabetes, amiloidosis, sindrom alport.

o Infeksi: Virus, malaria, Skistosoma, lepra, sifilis, pasca streptokokus.

o Toksin / Alergi: Air raksa, serangga, bisa ular.

o Penyakit sistemik: SLE (Sistemik Lupus Erektemakokus), purpura Henach Scholen (kelainan penyakit imunologis, kelainan kulit).

Patofisiologi:

  • · SN primer usia ≤ 6 tahun.
  • · Permeabilitas glomerulus meningkat — protein urea (pemeriksaan (+)) — hipoproteinemia — tekanan onkotik plasma menurun — pergeseran cairan dari intravaskuler — ke interstisial.
  • · Volume plasma, curah jantung, dan kecepatan filtras glomerulus menurun, retensi natrium.
  • · Penurunan volume plasma merangsang aldesteron (syaraf ADN) — reabsorpsi Na dan air di tubuli menurun.
  • · Edema karena bocor cairan melalui membrane kapiler dan retensi cairan.
  • · Penurunan volume intravaskuler menimbulkan renjatan.
  • · Kadang-kadang hipertensi.
  • · Sesak karena cairan dalam rongga pleura.
  • · Hipoalbumin karena hilangnya albumin melalui air kemih dan berkurang sintetis protein, katabolisme dan pelepasan protein ekstra renal.
  • · Kadar albumin plasma rendah merangsang sintetis protein dihati disertai penurunan sintetis lipid lipoprotein dan trigliserida, aktivitas lipoprotein menurun.

Cat: Lipid = Lemak

Syndrom = kumpulan gejala

Sembab = edema/bengkak.

Gejala klinis:

– Sembab ringan: kelopak mata bengkak.

– Sembab berat: anasarka (pembengkakan seluruh tubuh), asites, pembengkakan skrotum/labia, hidrotorak, sembab paru.

– Sembab karena hidrotorak (diafragma letak tinggi).

– Kadang-kadang hipertensi.

Laboratorium:

– Proteinuria.

– Hipoalbumineria.

– Hiperkolesterolemia.

– Biopsi ginjal. umur: <> 6 tahun.

  • · Tidak remisi dengan induksi prednisone.
  • · Sering relaps.
  • · Hipertensi, hematuria, fungsi ginjal menurun.

Penatalaksanaan:

Umum: – Diit: Tinggi protein rendah garam (pada status edema dan selama diberi streroid).

– Cairan terbatas. Vit D, Kalsium.

– Aktifitas: tirah baring (pada status sembab, hipertensi, bahaya trombosis, relaps).

– Hindari stress psikologis, rawat inap untuk mengatasi penyulit.

– Perlu control teratur.

GLOMERULUS NEFRITIS AKUT PASCA STREPTOKOKUS (GNA PS)

o Defenisi: Adalah suatu proses radang nonsupuratif yang menyerang glomeruli akibat infeksi kuman streptokokus.

Beta hemolitikus group A ditempat lain.

Sering pada anak-anak dan dewasa muda.

o Patofisiologi

– 75% GNAPS setelah ISPA oleh kuman Beta hemolitik group A tipe, 1, 2, 4, 12, 18, 25, 48, 55, 56, 57, dan 60.

– Lainnya setelah infeksi kulit.

– 8 – 14 hari setelah infeksi streptokokus timbul gejala-gejala klinis.

o Gejala klinis:

– Sembab pada pagi hari.

– Asites, tacikardi, takipnoe, ronkhi, cairan dalam rongga pleura.

– Hipertensi > 50% penderita.

– Air kemih merah seperti air cuci daging, oliguria, kadang-kdang anuria.

– Rontgen: bendungan pembuluh darah, paru, cairan, dan pleura/kardiomegali.

o Laboratorium:

  • · Air kemih:

– Proteinuria ringan.

– Hematuria makro/mikro.

– Torak granuler, torak eritrosit.

  • · Darah:

– ASTO meninggi (Anti Streptolisin Titer O).

– BUN naik pada akut.

– Komplemen C3 menurun.

– Arti DNA Ase beta dan properdin naik.

o Penatalaksanaan:

– Tidak ada yang spesifik.

– Antibiotika.

– Bedrest.

– Diet rendah garam + anti hipertensi.

– Penanganan gagal jantung.

– Penanganan gagal ginjal akut.

o Komplikasi:

– Hipertensi ringan sampai berat.

– Payah jantung karena hipertensi + hiper volomia.

– Gagal ginjal.

Cat: Asites = cairan dalam rongga perut

Ronkhi = cairan dalam rongga paru-paru.

SALURAN PERNAPASAN

o Saluran pernapasan atas: Hidung — laring (tenggorokan)

o Saluran pernapasan bawah: Laring — alveoli.

T B C

TUBERKULOSIS = KOH PULMONUM

o Penyebab: Kuman mycobacterium tuberculosis

o Imunisasi: BCG

o Anak, bayi, orang dewasa gejala sangat berbeda.

o Penularan: Udara — saluran pernapasan — paru-paru (alveoli) — kelenjar getah bening (KGB) — aliran darah — seluruh tubuh.

o Gejala-gejala:

* Tidak mau makan.

* Berat badan menurun.

* Anoreksia (nafsu makan menurun).

* Sering sakit.

* Hangat kuku.

* Sumbernya kontak

o Alat deteksi dini dan rujukan TB anak:

1. Kontak erat

2. Test tuberculin (+) > 10 mm.

3. Gambar foto rontgen sugestif TB.

4. Reaksi berlebihan setelah BCG.

5. Batuk diatas 3 minggu.

6. Sakit dan demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas.

7. BB turun tanpa sebab yang jelas, BB tidak naik dalam satu bulan meskipun gizi ditambah.

8. Gejala-gejala spesifik — Kaku kuduk, pembesaran limfa

Bila ≥ 3 positif

Diagnosa TB

Beri OAT: observasi 2 bulan

Membaik Memburuk/tetap

Membaik Bukan TB TB kebal obat

Rujuk ke RS

RS umum/Pendidikan

Ø Gejala klinis

Ø Uji klinis

Ø Foto rontgen

Ø Pemeriksaaan mikrobiologi

Ø Pemeriksaan PA (Biopsi)

o Perhatian:

Bila terdapat tanda-tanda bahaya seperti:

~ Kejang

~ Kesadaran menurun

~ Kaku kuduk

~ Benjolan di punggung

~ Rujuk RS

Catatan: – OAT (Obat anti tuberculosis).

– TBC berat = TBC milier.

o Gejala spesifik organ yang terkena:

1. TB limfe leher (kulit) / skrofuloderma.

2. TB tulang dan sendi.

– Tulang panggul (koksitis) —- pincang.

– Tulang punggung (spondilitis).

– Tulang lutut —- pincang dan/atau bengkak.

3. TB otak : meningitis.

Gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah, dan kesadaran menurun, kejang-kejang.

4. TB mata : conjungtivitis phlytenularis.

o Laboratorium: * Darah tepi: – Limfosit bertambah

– LED bertambah (LED = laju endap darah)

o Uji tuberculin cara mantoux PPD-RT232TU ≥ 15 mm volertangan, 2 – 5 hari.

o Foto toraks: infiltrate, milier, atelektasis, efusi.

o Fungsi lumbal: – meningitis.

o Tatalaksana:

– Rifamfisin 10 – 15 mg/kg BB/hari — 6 bulan sampai 9 bulan.

– INH 5 – 10g/kg BB/hari — 6 bulan sampai 9 bulan

– Pyrodinamid 15 – 20 mg /kgBB/hari — 2 bulan.

o Roborantia — vitamin.

o Profilaksis (pencegahan) = INH 10 mg/kg BB/ 2 bulan.

KEDARURATAN PERNAPASAN AKUT

¨ Penyebab:

– Obstruksi jalan napas/mengganggu pertukaran gas.

– Epiglotitis/Croup —- Sumbatan jalan napas atas.

– Bronkialitis —- napas bawah.

– Asma akut —- napas bawah.

– Benda asing —- bawah + atas.

– Edema laring + Bronco spasme —- Anafilaksis.

– Pertukaran gas:

~ Pneumonia

~ Edema paru

~ Efusi pleura (ada air)

~ Pneumotorak

¨ Diagnosis:

– Takipnoe (pernapasan cepat).

– Pernapasan cuping hidung.

– Retraksi supra sternal + dinding dada.

– Mengi, stridor/merintih.

– Suara napas kurang terdengar/ tidak ada.

– Ronkhi/krepitasi.

– Sianosis —- kejang —- mati.

¨ Takipnoe:

– Penyakit jantung.

– Asidosis metabolic.

– Tekanan intracranial meninggi.

Distress Pernapasan

Singkirkan penyebab non supuratif

Penyakit respiratorik

Stridor Mengi Merintih Takopnoe

– Singkirkan benda asing – Bronkialis – Pneumonia – Pneumonia

– Croup – Asma – Efusi pleura – Pneumotorak

– Epiglotitis – Aspirasi peneumonia – Pneumotorak

– Difteri – Kompresi eksternal

– Abses retrofaringeal – Anafilaksis

¨ Inhalasi benda asing:

~ Perasat Heinlich

~ Foto torak

~ Bronkoskopi

¨ Croup:

– Penyebab virus (RSV).

– Respiratory syncytial virus.

¨ Epiglotis oleh bakteri hemophilus influenza.

* Trakeostomi

¨ Bronkialitis akut: Infeksi virus <>

o Terapi:

– O2

– Menjamin hidrasi yang adekuat — IVFD

– Inkubasi jalan gangguan nafas.

– Antibiotika jika perlu.

– Bronkodilator tidak bermamfaat (Nebelizer).

– Antitusif hindari (Obat batuk hindari).

Cat: sianosis ada 2 macam:

– sianosis sentral.

– sianosis perifer (pada kaki dn tangan).

o Gejala penting:

– Takipnoe > 60 x / menit.

– Sianosis sentral (lidah biru pada suhu kamar).

– Retraksi (tarikan pada sela iga dan dada saat inspirasi).

– Sesak jika ada 2 gejala.

o Etiologi:

~ Extra pulmonal:

Pneumotorak, asidosis metabolic, gangguan jantung, hipotermi, anemi (HB (-)).

~ Intra pulmonal:

PMH (Penyakit Membran Hialin), syndrome aspirasi mekonium, syndrome paru putih.

o Laboratorium:

Darah rutin, Foto torak, AGD (Analisa GasDarah).

o Tatalaksana:

– Inkubator.

– O2.

– IVFD.

– Temperatur.

– Monitor tanda vital.

– Antibiotika.

¨ Bronko pneumonia

Inflamasi yang mengenai parenkim paru.

o Etiologi:

a. Virus

b. Bakteri:

– Streptococcus pneumonia

– Hemophilus influensa

– Staphilococcus aureus

– Streptococcus group B

– Klamidia

– Mikoplasma

c. Aspirasi.

o Infeksi virus —- infeksi bakteri

Pneumonia bakteri: awitan (timbul) cepat, batuk produktif.

Toksik, leukositosis, Ro: nyata.

Bakteri penyebab sesuai distribusi umur.

o Gejala klinis:

– Panas, batuk.

– Nafas cuping hidung.

– Retraksi sela iga, dan retraksi epigastrium.

o Pemeriksaaan laboratorium:

Darah rutin, foto torak.

o Tatalaksana:

– Sesak — puasa.

– O2.

– Infus Ka En3B/TB.

– Antibiotika (5 – 10 hari).

– Bedrest.

ANEMI DEFESIENSI BESI (KURANG BESI)

Adalah anemi yang disebabkan oleh kekurangan zat besi untuk pembuatan hemoglobin.

¨ Patofisiologi

~ Zat besi yang diperlukan untuk pembuatan hem, dan hemoglobin.

Kekurangan Fe mengabakibatkan defesiensi Fe.

~ Kekurangan Fe dapat terjadi bila:

– Makanan tidak cukup Fe.

– Komposisi makanan tidak baik untuk penyerapan Fe (baik sayuran, kurang daging-dagingan).

– Gangguan penyerapan Fe (pegik usus, reseksi usus).

– Kebutuhan Fe meninggi (pertumbuhan yang cepat, pada bayi dan adolescentis (puber), serta kehamilan.

– Perdarahan kronik, berulang (epistaksis, hematemesis (muntah darah), ankylostoma (cacing tambang)).

¨ Gejala klinis

Pucat, lemah, takikardia, bising sistolik dengan/tanpa kardiomegali.

¨ Pemeriksaan laboratorium

~ Hemoglobin dan jumlah eritrosit menurun.

~ Apus — Anemia Hipokrom Mikrositik

~ Kadar besi serum menurun

~ Sumsun tulang:

– Aktifitas eritropoitik meningi

– Timbunan Fe menurun.

– Ferritin serum menurun.

¨ Komplikasi

* Payah jantung akut (dekomp cordis/gagal jantung)

¨ Penatalaksanaan

o Kausal: ,e,perbaiki diit, obat cacing dll.

o Memperbaiki anemia:

– Oral — SF (Sulfas ferosus), Ferri Sulat, Fero Fumarak

10mg/kg BB/hari — 2 bulan.

– Parenteral:

PRC (Packed Red Sell/sel darah merah).

Whole blode: HbN — Hbos x 4 x BB.

Furasemid 1 – 2 mg/kg BB/sebelum transfusi.

LEUKEMIA AKUT (KANKER DARAH)

Adalah keganasan primer sumsum tulang akibat terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal (blastosit) disertai penyebaran keorgan-organ lain.

¨ Patogenesis

1. Induk sel darah gagal berdiferensisasi menjadi dewasa sehingga terjadi pembelahan terus — mendesak hemopoitik normal — sehinggga terjadi kegagalan fungsi sumsum tulang. Selain itu menginfiltrasi keorgan-organ tubuh.

2. Jenis:

LLA: Leukemia limfoblastik Akut.

LMA: Leukemia Mioloblastik akut (Micloid).

¨ Gejala kilinis:

* Anemia: pucat, mudah lelah, kadang-kadang sesak.

* Leukopenia: infeksi local/umum (panas, penurunan keadaan umum)

* Trombositopenia: perdarahan kulit, mukosa.

¨ Infiltrasi keorgan lain

o Nyeri tulang.

o Pembesaran KGB.

o Hepatosplenomegali.

o Kejang, kesadaran menurun (infeksi keotak).

¨ Laboratorium

~ Hb dan eritrosit menurun.

~ Leukopenia.

~ Trombositopenia.

~ Sel blat (+).

¨ Tatalaksana

  • · Hb <>
  • · Trombosit <>
  • · Antibiotik (infeksi sekunder).
  • · Perbaikan gizi
  • · Kemoterapi selama satu tahun.

¨ Komplikasi

* Perdarahan

* Sepsis

¨ Prognosis: Buruk

Cat: – Hb normal = 12

– Hem — besi, globin — jenis protein. Hem + globin = hemoglobin.

About psychologymania

Praktisi Psikologi

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: