Psikologi Faal

Ilmu Neurologi (Persyarafan)

SISTEM PERSARAFAN

v Secara truktural

Terdiri dari otak dan Susunan Saraf Pusat (SSP) ditambah Medulla Spinalis atau saraf tulang dan Susunan Saraf Tepi (SST).

v Secara Fungsional

Terdiri dari serebro spinalis, otak terdapat dalam rongga kepala, medulla spinalis terdapat dalam columna vertebralis.

A. SUSUNAN SARAF PUSAT (SSP)

SEREBRUM

Pada otak terdapat 4 lobus, setiap lobus memiliki fungsi yang berbeda:

Q Lobus Frontal

Terlihat dalam mental, emosi dan fungsi fisik, bagian anterior (depan atas) mempunyai peran dalam tingkah laku tidak sadar. Misalnya: kepribadian, tingkah laku social, memberi pendapat dan aktifitas itelektual, bagian sentral posterior (depan belakang) mengatur fungsi motorik.

Q Lobus Pariental

Menterjemahkan input sensorik, sensasi yang dirasakan pada suatu sisi bagian tubuh yang diterjemahkan melalui lobus pariental bagian lateral, rangsangan yang diterima adalah nyeri, temperature, sentuhan, tekanan, dan proprioseption. Lobus pariental juga menterjemahkan input sensorik stereognasis dan juga berfungsi sebagai pengembangan gambaran diri.

Q Lobus Occipital

Berfungsi pada daerah visceral (bagian dalam) visual (bagian luar). Misalnya penglihatan, menerima informasi dan menafsirkan warna, juga berperan dalam refleks visual untuk menentukan mata pada sebuah objek yang diam dan bergerak.

Q Lobus Temporal

Menerima input dari tiga indera perasa, yaitu: pendengaran, pengecap, dan penciuman dan mempunyai peran dalam proses memori.

THALAMUS

Thalamus adalah sebuah massa avoi dabu-abu yang besar disekitar ventrikel otak. Daerah spesifik dalam thalamus menerima akson dari medulla, batang otak, serebellum, basal ganglia dan bagian variasi dari serebellum. Hubungan ini memberi pengaruh terhadap fungsi motorik dan mempunyai peran dalam respons emosional, terjemahan sensasi-sensasi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

HIPOTHALAMUS

Hipothalamus adalah bagian kecil tetapi daerah yang sangat penting dijaringan otak yang letaknya dibawah thalamus yang bertugas mempetahankan beberapa fungsi keseimbangan, pengaturan sejumlah aktifitas yang juga dipengaruhi kelenjar pytuitari dan system saraf otonom (bekerja sendiri). Hipothalamus menerima input dari seluruh bagian tubuh. Pengaruh hypothalamus didalam aktivitas system saraf otonom termasuk pengaturan denyut jantung, tekanan darah, dan temperature tubuh, juga mengatur nafsu makan, mempengaruhi fungsi genital dan aktivitas seksual.

MEDULLA OBLONGATA

Terdiri dari otak tengah, pons dan medulla obolongata, masing-masing struktur m mempunyai tanggung jawab yang unik. Ketiganya sebagi unit untuk menghantarkan saluran inpuls yang disampaikan ke dan dari saluran serebri dan lajur dibagian otak tengah. Bagian atas dari batang otak mengandung system pons afferent dan efferent yang membawa infuls ke dan dari hemisfer serebri. Pons terletak diantara otak tengah dan medulla oblongata pada serebellum bagian anterior. Bagian ini mengandung serabut saraf yang memberikan komunikasi antara tengkorak atas dan bawah dari susunan saraf pusat dan serebellum. Sepertiga bagian bawah pons mengandung pusat-pusat refleks pernapasan.

SEREBELLUM

Mengatur dan mengkoordinir aktivitas otot skeletal dan mempertahankan postur dan kekuatan otot, serebellum juga berfungsi dalam petunjuk – petunjuk penglihatan, koordinasi gerak tubuh, dan keseimbangan.

MEDULLA SPINALIS

Merupakan jalan atau saluran untuk menghantarkan informasi dari dan ke otak dari perifer (ditepi) seperti kulit. Mirip tempat jalannya refleks medulla spinalis berisi badan putih yang mengandung serabut-serabut myelin (akson) yang menghantarkan informasi asenden dan desenden. Badan kelabu yang terisi badan sel berikut prosesnya terjadi dalam menstimulus (rangsang) masuk ke stimulus MS yang berintegrasi dalam badan kelabu. Respon dapat terjadi secara/ditransmisikan ke atas satmasenden. Semua kegiatan motorik disalurkan melalui MS dan akson perifer.

B. SUSUNAN SARAF TEPI

  • · Susunan saraf perifer terdiri dari:

○ Saraf cranial 12 pasang

○ Saraf spinalis 31 pasang

  • · Susunan saraf otonom terdiri dari:

○ Saraf simpatis

○ Saraf parasimpatis

31 pasang saraf spinalis adalah 7 pasang dari segmen servikal, 12 pasang dari segmen thorakal, 5 pasang dari segmen lumbalis, 5 pasang dari segmen sacralis dan 1 pasang dari segmen koxigeus.

Catatan:

Pembagian Kolumna Vertebralis

(Rangkaian Tulang Belakang)

Kolumna vertebralis berjumlah 33 ruas tulang, yang dibagi atas:

1. Vertebra Servikalis (ruas tulang leher) yang berjumlah 7 buah dan membentuk daerah tengkuk.

2. Vertebra Torakalis (ruas tulang punggung) yang berjumlah 12 buah dan membentuk bagian belakang torax atau dada.

3. Vertebra Lumbalis (ruas tulang pinggang) yang berjumlah 5 buah dan membentuk daerah lumbal atau pinggang.

4. Vertebra Sakralis (ruas tulang kelangkang) yang berjumlah 5 buah dan membentuk os sakrum (tulang kelangkang).

5. Vertebra koksigeus (ruas tulang tungging) yang berjumlah 4 buah dan membentuk tulang koksigeus (tulang tungging).

SKEMA SUSUNAN SARAF

NERVUS

1. Nervus olfaktoris (N.I).

Fungsinya: Bertanggung jawab terhadap persepsi penciuman, inpuls saraf menjalar kelobus temporalis untuk di interpretasikan.

2. Nervus optikus (N. II).

Berfungsi untuk penglihatan.

3. Nervus okulomotoris (N. III).

Fungsinya: Bertanggung jawab untuk pergerakan otot bola mata dan sebagai pembuka kelopak mata.

4. Nervus troklear (N. IV).

Fungsinya: Bertanggung jawab untuk gerakan sadar bola mata.

5. Nervus trigeminus (N. V).

Fungsinya: Bertanggung jawab untuk mengunyah.

6. Nervus abdusenS (N. VI).

Untuk memutar mata kearah luar.

7. Nervus fasialis (N. VII).

* Berperan memproduksi kelenjar lakrimalis, sub mandibularis.

* Memberi informasi untuk rasa manis, asam dan asin pada 2/3 anterior lidah.

* Mempersarafi otot-otot wajah.

8. Nervus vestibukokhlearis (N. VIII).

Berperan dalam penterjemahan suara.

9. Nervus glossofaringeal (N. IX).

* Berperan dalam menelan.

* Respon sensoris terhadap rasa pahit pada 1/3 bagian lidah posterior.

10. Nervus vagus (N. X).

o Inpuls motor sensorik dibawah faring dan laring.

o Serat saraf parasimpatis luas mempersarafi, faring, laring dan trakea meluas ke torax dan abdomen.

o Cabang toraks dan abdomen mempengaruhi fungsi esofagus, paru-paru, aorta, lambung, kandung empedu, limfa, usus halus, ginjal, dan 2/3 bagian atas usus besar.

11. Nervus Asesoris (N. XI).

o Bekerja sama dengan saraf vagus untuk memberi informasi kepada otot faring dan laring.

o Mempersarafi muskulus travesius (otot dilengan tempat menyuntik) dan otot sternokleidomastoid.

12. Nervus hipoglossus (N. XII).

* Bertanggung jawab untuk pergerakan lidah.

SISTEM SARAF OTONOM

Berfungsi untuk mempertahankan keadaan tubuh dalam kondisi terkontrol tanpa pengendalian secara sadar. Struktur jaringan yang dikontrol oleh system saraf yaitu otot jantung, pembuluh darah, iris mata, organ thorakalis, abdominalis, dan kelenjar tubuh.

REFLEKS

Merupakan jawaban motorik atas rangsangan sensoris yang diberikan pada kulit. Penampakan refleks berupa peningkatan atau penurunan kegiatan, sebagai contoh berupa kontraksi atau relaksasi otot-otot. Penurunan atau peningkatan sekresi kelenjar atau dilatasi pembuluh darah.

CAIRAN SEREBRO SPINALIS (CSF)

Berfungsi melindungi otak dan medulla spinalis dengan dukungan jaringan otot. Bertindak sebagai media transfer elemen-elemen dari aliran darah kesitem saraf dalam jaringan otot. CSF ditemukan didalam ventrikel tidak disaluran sentral medulla spinalis dan diruang subaraknoide. CSF ini dibentuk dalam fleksus choroids. Setelah bersirkulasi diotak dan medulla spinalis, cairan ini kembali ke otak dan diabsorpsi melalui visi araknoid. Selanjutnya CSF masuk kesistem vena melalui vena cavasuperior dan akhirnya masuk kesirkulasi sistemik.

CSF mengandung limposit kurang lebih 8 ml CSF dalam keadaan normal, peningkatan jumlah sel meunjukkan adany infeksi. Protein CSF meningkat pada penyakit degeneratif atau tumor otak. Darah dalam cairan spinalis menunjukkan adanya perdarahan pada tempat-tempat sekitar ventrikel.

MENINGEN

Meningin adalah selaput otak yang melapisi bagian otak dan medulla spinalis yang berfungsi sebagai pelindung yang terdiri dari:

a. Duramater : Kuat dan tebal

b. Arakhnoid : Jaringan ikat yang longgar

c. Piameter : Melapisi seluruh bagian otak

d. Subdural : Rongga kecil yang terletak antara durameter dan arakhnoid berisi

vena-vena yang mengambil makanan dari selaput otak serta bagian

dalam tulang.

e. Ruang subaraknoidea : Terletak antara arakhnoide dan piameter, berisi CSF.

f. Enchepalitis : Peradangan pada otak.

Sistem Persarafan Berfungsi Sebagai:

  • · Menerima info dari dalam maupun dari luar melalui afferent sensori pathway.
  • · Mengkomunikasikan info antara SSP dan SST.
  • · Mengolah info yang diterima baik disaraf (refleks) maupun diotak untuk menentukan respon yang tepat dengan situasi yang dihadapi.
  • · Menghantarkan info secara tepat melalui efferent pathway (motorik) ke organ-organ tubuh sebagai control atau modifikasi tindakan.

GAMBARAN UMUM PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN

Masalah yang sering menyertai penyakit dengan gangguan system persarafan:

a. Nyeri

Adalah An unpleasant sensory or emotional experience associated with actual or potential tissue damage or described in terms of such damage.

b. Peningkatan Tekanan Intra Kranial

Disebabkan oleh:

○ Lesi yang meningkat, volume jaringan, sepcontusio serebri, hematom, abses tumor intracranial.

○ Gangguan serebrospinal terdiri dari peningkatan produksi CSF, adanya hambatan didalam system ventrikuler, penurunan penyerapan dari CSF.

○ Edema serebral sebagai akibat dari kelebihan cairan hipotonik dan trauma otak.

Dampak peningkatan teknanan intracranial:

  • · Perubahan tingkat kesadaran.
  • · Perubahan pupil.
  • · Gangguan penglihatan.
  • · Perubahan tanda-tanda vital.
  • · Perubahan sensoris dan motorik.
  • · Hicupping (cekungan).
  • · Perubahan tingkat kesadaran.

Keadaan sadar atau keadaan dimana organisme sadar akan lingkungannya dan siap untuk bereaski terhadap rangsangan yang datang dari lingkungan dalam maupun lingkungan luar.

Dampak Perubahan tingkat kesadaran:

* Perubahan pola napas.

* Reaksi dan ukuran pupil.

* Perubahan fungsi motorik.

* Suhu tubuh.

* Perubahan tekanan intracranial.

* Perubahan pada tonus otot dan fungsi motorik.

Adanya kerusakan pada system pernapasan dapat mengakibatkan masalah serius pada mobilitas. Adanya cedera pada motor neuron mengakibatkan perubahan pada kekuatan otot dan aktivitas refleks

* Rasa tidak berdaya.

Pengkajian:

1. Riwayat kesehatan:

○ Kaji keadaan kesehatan sekarang dan masa lalu.

○ Observasi penampilan umum, postur, status mental, cara bicara, dll.

○ Pengobatan yang sudah diterima.

2. Riwayat perkembangan:

o Neonatus (0 – 28 hari).

o Infant (Bayi).

o Child (anak-anak).

o Odolesent (remaja).

o Older adult.

3. Riwayat social:

○ Bentuk interaksi.

○ Pola tidur/penggunaan obat-obatan.

○ Latar belakang pendidikan, budaya, pekerjaan.

○ Organisasi yang diikuti/aktivitas social.

4. Riwayat psikologis:

o Strategi koping.

o Pemahaman terhadap pola tidur.

5. Pemeriksan fisik:

○ Inspeksi

q Gaya berjalan.

q Bentuk wajah.

q Keadaan motorik.

q Gerakan abnormal.

q Kemampuan bicara.

q Tingkat kesadaran.

q Kemampuan memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi.

q Kemmpuan eliminasi.

○ Palpasi

q Penilaian status obat.

q Menilai kepadatan dan bentuk otot.

q Penilaian refleks.

q Penilaian tanda-tanda vital.

Perencanaan

Bentuk pemeriksan kesehatan:

1. Faktor makanan

Mempengaruhi system persarafan sejak manusia tumbuh dalam kandungan. Otak mencapai ukuran yang hampir sama dengan orang dewasa pada usia 4 tahun, oleh karena itu makanan pada usia sebelumnya perlu mendapat perhatian khusus.

2. Olahraga

Perlu mendapat pengembangan koordinasi dan control neuromuskuler yang normal.

3. Keamanan diri

Perlu untuk perlindungan kepala saat berolah raga, mengendarai motor dan situasi kerja terganggu.

4. Prosedur keperawatan

  • · Mempertahankan terbukanya jalan napas:

q Pasang oral airway.

q Pengisapan lendir.

q Pengaturan posisi.

  • · Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan

Memantau keseimbangan cairan tubuh/ukur intake dan output dan timbang berat badan.

  • · Memelihara integritas kulit

Perlu perubahan posisi secara regular, semua posisi harus dilakukan pada pasien kecuali bila pasien dalam keadaan koma. Pada waktu mengubah posisi pasien, perhtikan adanya tanda-tanda daerah yang mengalami tekanan pada kulit pasien.

  • · Mempertahankan fungsi BAB dan BAK

Pada umumnya cuma mengalami inkontinensia, tetapi dapat pula pula mengalami retensi, untuk BAB perlu observasi apakah pasien mengalami perubahn BAB (diare atau konstipasi) pasien dapat diberikan suppositoria, bila sudah kembali dapat diberikan obat pencahar lewat oral/diet yang memudahkan BAB. Untuk melatih BAB secara teratur, pasien disarankan agar mencoba BAB setiap hari pada waktu yang sama.

  • · Mempertahankan fungsi psikososial

Bila pasien sudah sadar berbagai reaksi harus diobervasi apakah sedih, bingung, depresi/takut dan sebagainya. Ketidakmampuan pasien mengenali lingkungan, bicara jelas, menggerakkan tangan serta kakinya, semua ini dapat menimbulkan kecemasan.

Semua situasi ini membuat pasien rendah diri, perawat harus mengkaji status emosi pasien dan menjelaskan alasan perawatan dan pengobatan. Pasien harus diorientasikan dengan lingkungan, diberi support. Bila pasien gelisah ciptakan lingkungan tenang dan rasa aman.

Bila pasien marah, perawat harus memahaminya tanpa komentar, karena pasien tidak dapat menghambat reaksinya. Usaha-usaha mengoreksi pasien justru membuat pasien frustasi. Oleh karena itu harus dihindari. Perawat harus menyempatkan waktu bertemu keluarga pasien dan membantu mengatasi atau mencarai jalan keluar permasalahan yang ada.

DAIGNOSTIK ASSESMENT

Tujuan pemeriksaan neurology ialah untuk menetapkan danya disfungsi otak dan untuk mengetahui letak lesi pada susunan saraf.

v Skul X-rays

Untuk melihat bentuk vascularisasi, klasifikasi intracranial dan adanya tumor.

v Ventriculographi

Untuk melihat ventrikel dan lokasi tumor.

v Myelography

Untuk melihat subarknoid spinal apakah ada lesi/tidk.

v Cerebral Angiography

Untuk melihat pembuuh darah dan lokasi lesi seperti aneorisma, oklusi dan angioma.

v Ct-Scan

Untuk melihat tumor dengan akurasi yang tinggi.

v Electro Encepalography

Catatan grafik, aktivitas listrik otak pada tempat elektroda dikulit kepala. Berfungsi untuk mendeteksi lesi intracranial, mengetahui aktivitas otak dan mendeteksi brain death (kematian otak).

v Echo Encepalography

Catatan refleksi gelomban ultrasonic dan struktur otak. Berfungsi untuk mengetahui posisi dan perubahan garis tengah struktur otak. Mendeteksi hematoma/tumor subdural.

v Lubal Pungsi

Untuk menentukan beberapa penyakit dan kelainan neurologist. Contoh meningitis. Pada stroke untuk membedakan beberapa penyesuaian apakah penyesuaian stroke haaemorragie/perdarahan sub arakhnoidea. Pada paraplegia untuk menentukan apakah terdapat kompreksi medulla spinalis. Kontra indikasi bila terdapat injeksi di tempat yang dilakuka Pungsi dan bila keadaan pasien semakin menurun.

v Cisternal Punctie

Jarum dimasukkan resisternal mango. Tujuan sama dengan lumbal pasien.

v Arteriography

Dilakukan pada pasien anurisma / malformasi arteriusnosa (MAV).

PENILAIAN TINGKAT KESADARAN

v Penilaian kuntitatif

Composmentis (pasien sadar penuh) atau dapat bereaksi dengan lingkungan.

v Penilaian kualitatif

Menggunakan cara Glasgow Comma Scale (GCS) dinilai 3 hal yaitu respon motorik, respon verbal dan respon mata.

Unsur yang dinilai Reaksi yang timbul Angka/nilai

  • · Membuka mata Membuka mata spontan 4

Membuka mata atas perintah 3

Membuka mata bila dirangsang 2

Tidak dapat buka mata 1

  • · Bicara Bicara baik 5

Percakapan membingungkan 4

Kalimat tidak teratur 3

Kata-kata tidak dimengerti 2

Tidak ada suara 1

  • · Pergerakan Ikut perintah 6

Nyeri setempat 5

Menarik diri 4

Fleksi abnormal 3

Ekstensi respon 2

Tidak ada gerakan 1

SEL – SEL SISTEM PERSARAFAN

Mengandung sel-sel silia. Sel-sel ini sangat banyak kir-kira 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan neuron dalam susunan saraf pusat.

Terdapat 3 jenis sel:

  • · Mikroglia
  • · Oligodendroglia
  • · Myelia

NEURON

Struktur dan unit fungsional system persarafan adalah neuron, terdiri dari badan sel (soma) dan 2 perpanjangnan yaitu dendrite (berfungsi menerima info dari akson terminal pada tempat yang khusus yang disebut dengan sinaps dan akson yang membawa info keluar dari badan sel ke neuron lain).

SINAPS

Impuls yang terdapat di suatu nuron akan diteruskan ke neuron lain, hubungan suatu neuron dengan neuron lainnya. Tempat terjadinya penghantaran impuls disebut sinaps. Ujung dari akson mengandung substensi kimia (neurotrans mitter) mempunyai sifat eksitasi dan inhibisi.

EPILEPSI

Epilepsi adalah lepasnya muatan listrik yang berlebihan dari sel-sel neuron diotak yang berkala serta mengakibatkan ketergantungannya system motorik, sensorik dan psikis.

Q Etiologi

q Kelompok usia 0 – 6 tahun

Kelinan intrauterine, kelainan persalinan, kelainan congenital, gangguan metabolisme, infeksi SSP. Misalnya: meningtitis, hidrosefalus, pascainfeksi.

q Kelompok usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun

Terutama disebabkan oleh kejang, demam, cedera kepala.

q Kelompok usia muda

Cedera kepala mirip penyebab yang tersering. Juga karena tumor-tumor, infeksi.

q Kelompok usia lanjut

Disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak, trauma, tumor dan degenerasi serebral dan kelompok anak sampai dengan remaja disebabakan infeksi virus dan abses otak.

Q Patofisiologi

Bangkitan epilepsy yaitu karena terlepasnya muatan listrik yang berlebihan, ini disebabkan adanya gangguan keseimbangan antara proses ekistasi dan inhibisi pada interaksi neuron. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan pada sel neuronnya sendiri maupun transmisi sinaptik.

Q Klasifikasi Internasional

  • · Serangan parsial

q Simptomatologik elementer.

q Simptomatologik kompleksi.

  • · Serangan umum

q Lena (serangfan tiba – tiba), kesadaran hilang beberapa detik, terjadi pada anak-anak.

q Mioklonik, kontraksi otot yang singkat dan tib – tiba.

q Tonik, tonus otot tiba-tiba meningkat pada otot ekstremitas.

q Klonik, hilang kesadaran lalu diikuti sentakan-sentakan bilateral kurang lebih 1 manit.

q Tonik-kloni (grandmol) ditandai oleh suatu aura yang diikuti oleh kehilangan kesadaran, lidah biasanya tergigit selama fase tonik-klonik.

q Atonik, kehilangan tonus tubuh.

  • · Serangan unilateral
  • · Serangan epilepsy yang tidak dapat digolongkan

Ststus epilepsy, serangan berulang-ulang yang disebabkan oleh suhu yang tinggi, meningitis, trauma otak, intoksikasi obat, alcohol dll.

PENGKAJIAN

○ Biodata : Nama, alamat, umur, pekerjaan, pendidikan, agama dan data keluarga.

○ Apa yang terjadi selama serangan:

q Apakah ada kehilangan kesadaran.

q Jatuh ke lantai.

q Apakah menggigit lidah dll.

○ Sesudah serangan

q Apakah pasien letalgi (pusing/oleng), bingung, sakit kepala, gangguan bicara dll.

q Apakah hemiplagia (lumpuh).

q Apakah ada cedera/memar.

○ Riwayat sebelum serangan

q Apakah ada gangguan tingkah laku/emosi.

q Apakah disertai aktifitas atonic.

q Adakah aura yang mendahului.

○ Riwayat penyakit

q Sejak kapan serangan.

q Usia serangan.

q Faktor serangan.

q Apakah menderita sakit berat (gangguan kejang-kejang).

q Apakah pernah operasi/cedera otak.

q Apakah pernah makan obat-obatan tertentu.

q Apakah ada keluhan yang mempunyai penyakit yang sama.

DIAGNOSA KEPERAWATAN (NDX)

v Resiko terjadi luka/trauma fisik, berhubung dengan kehilangan kesadran yang tiba-tiba.

v Tidak efektifnya jalan nafas berhubung dengan sumbatan secret dan trakea.

v Gangguan konsep diri berhubung dengan penyakit epilepsy.

v Kurang pengetahuan tentang penyakitnya.

PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

  • · Mengontrol serangan

q Kenali penyebab.

q Jika sempat masukkan penekan lidah, dengan segera kedalam mulut.

q Alat-alat berbahaya disingkirkan.

q Ekstremitas harus di tahan.

q Catat gejala dan tanda-tanda serangan.

q Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti epilepsy

  • · Perawatan waktu serangan

q Memiringkan kepala.

q Anjurkan pasien atau keluarga untuk mencatat kejadian serangan.

q Tidak boleh menghentikan obat tanpa pengawasan dokter.

  • · Perawatan setelah serangan

q Pasien harus m,engerti tentang penyakitnya.

q Perlu minum obat secara teratur.

q Jelaskan factor yang dapat menimbulkan serangan.

q Jelaskan tentang konsekuensi psikologi tentang pekerjaan, mengendarai mobil, sport, rekreasi, kehamilan, minum alcohol dan harus membawa keterangan di dompetnya.

  • · Kriteria evaluasi

q Tidak terjadi luka fisik.

q Saluran napas lancar.

q Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.

q Harga diri pasien meningkat.

q Pasien mengerti penyakitnya.

q Pasien rajin minum obat.

  • · Mempertahankan factor psikososial

Bila pasien sudah sadar, berbagai reaksi harus diobset, mungkin sedih, bingung, depresi, takut dsbnya. Ketidakmampuan pasien mengenali lingkungan, bicara keras, menggerakkan tangan dan kaki, semua ini dapat menimbulkan kecemasan.

Semua situasi ini menimbulkan pasien rendah diri, perawat harus mengkaji status pasien dan menjelaskan alasan-alasan perawatan dan pengobatan pasien harus diorientasikan dengan lingkungan dan diterima oleh support. Bila pasien gelisah, ciptakan lingkungan tenang dan rasa aman. Bila pasien marah, perawat harus memahaminya tanpa komentar karena pasien tidak dapat menghambat reaksi. Usaha-usaha mengoreksi pasien justru membuat pasien frustasi, oleh karena itu harus dihindari. Perawat harus menyempatkan menyempatkan waktu untuk bertemu keluarga pasien dan membantu mengatasi atau mencari jalan keluar permasalahan yang ada.

PEMBAGIAN SISTEM PERSARAFAN

Sistem persarafan secara garis besar terdiri dari 2 yaitu: secara structural yang terdiri dari susunan saraf pusat (otak dan medulla spinalis); dan secara fungsional terdiri dari serebrospinal dan susunan saraf otak.

v Susunan Saraf Pusat (SSP)

Sirkulasi SSP

Kelangsungan hidup dan fungsi dari SSP tergantung dari banyaknya suplai darah yang diterima arteri utama membawa darah yang mengandung O2 ke arteriole yang bercabang mengandung O2 ke kapiler. Otak meggunakan kira-kira 20% dari suplai O2 tubuh, dan memerlukan 400 kkal glukosa sehari. Rata-rata aliran darah serebral adalah 750 ml/menit.

Arteri utama adalah sirkulasi otak, yaitu arteri-arteri carotid internal yang mensuplay sebagian besar hemisfer. Basal ganglia dan 2/3 atas diensefalon dan arteri-arteri yang mensuplai 1/3 bawah diensefalon, batang otak, serebellum dan oksipital.

o Barier darah otak

Penting untuk melindungi jaringan otak dan medulla spinalis. Hubungan ini memberi pegaruh terhadap fungsi motorik mempunyai otot peran dalam mekanisme siap siaga dan pergerakan refleks. Thalamus terlibat dalam respon emosional, terjemahan senssasi dalam respon yang menyenangkan dan sebaliknya.

o Hypothalamus

Bagian kecil tetapi daerah yang sangat penting di jaringan otak yang letaknya dibawah thalamus, berfungsi dalam mempertahankan beberapa fungsi keseimbangan. Pengaturan sejumlah aktivitas kelenjar pituitary dan susunan saraf otak. Pengaruh hypothalamus didalam aktivitaa susunan saraf otak termasuk fungsi denyut jantung, tekanan darah dan temperature tubuh juga nafsu makan serta mempengaruhi fungsi aktivitas seksual.

ASKEP TUMOR INTRA CRANIAL

Adalah tumor dijaringan otak, dapat berasal dari parenkim otak, seperti glioma, introcitoma, digodendroglioma, medulla blastoma, tumor hypofise.

Patofisiologi:

Massa/neoplasma pada jaringan otak berdampak pada jaringan otak secara local dan umum. Secara local: inviltrasi, invasi dan pengrusakan jaringan otak. Secara umum menekan struktur saraf sehingga terjadi degenerasi dan gangguan sirkulasi.

Efek tumor tergantung pada lokasi, jenis, pertambahan tumor, gejala peningkatan ICP (Tekanan Intra Cranial/Intra Cranial Pressure), Nyeri kepala, muntah, pernafasan lambat, gangguan kesadaran, fontanel menonjol.

PENGKAJIAN

v Data Subjektif

○ Perubahan kepribadian

○ Ada sensasi abnormal

○ Ada gangguan penglihatan

○ Ada nyeri kepala

○ Ketidak mampuan menaikkan ADL

v Data Objektif

○ Kekuatan otot/pergerakan

○ Gaya jalan

○ Tingkat kesadaran

○ Orientasi

○ Daya ingat

○ Gangguan bicara

INTERVENSI KEPERAWATAN

v Pra Operasi

○ Kecemasan, kemungkinan penyebab:

q Gangguan komunikasi verbal.

q Gangguan saraf motorik dan sensorik.

q Lingkungan asing.

q Kurang pengetahuan tentang penyakitnya.

q Dukungan sosial ekonomi yang kurang.

○ Tujuan: Kecemasan berkurang dengan criteria:

q Pola tidur kembali seperti semula.

q Ekspresi wajah tenang.

q Klien dapat berinteraksi.

q Klien mengucapkan perasaannya.

○ Intervensi

q Kaji tanda-tanda kecemasan: insomnia, temor, diapresis (banyak keringat), tachipnoe (pernapasan cepat), tachicardi (pernapasan cepat), pucat.

q Orentasi pasien dengan lingkungan rumah sakit.

q Berikan info yang dibutuhkan oleh pasien dan keluarganya.

q Ciptakan lingkungan yang tenang

v Post Operasi

○ Nyeri kepala berkurang dengan criteria:

q Pasien menyatakan nyeri berkurang.

q Ekspresi wajah rileks.

○ Intervensi:

q Kaji tingkat nyeri.

q Kaji tanda nyeri dan respon non verbal.

q Kaji factor yang dapat menambah keluhan nyeri pasien.

q Ajarkan tekhnik kepada pasien.

○ Potensial komplikasi kejang

q Tujuan, kejang tidak terjadi.

q Intervensi:

* Kaji tanda-tanda nyeri/gejala nyeri seperti twitching.

* Cegah hal-hal yang mungkin terjadi pada saat kejang dengan cara:

♥ Selalu siapkan alat penghisap lendir.

♥ Pasang pengaman tempat tidur.

♥ Tempat tidur tidak boleh naik.

MENINGITIS

Meningitis adalah peradangan selaput otak.

v Patogenesis

q Infeksi langsung dari luar: luka tembak, luka tusuk, dan luka bacok.

q Hematogen.

q Septikimia (bakterikimia).

q Lokal infeksi (pneumonia).

q Infeksi pada wajah/kepala.

q Perkontinuitan: dari daerah dekat mening misalnya: sinus, OMA, mastoitis.

v Pembagian klinis

Meningitis Prulenta (untuk meningokokus, pneumokokus, haemophylus).

q Gejala klinis:

* Onset perlahan.

* Demam ringan.

* Nyeri kepala.

* Kaku kuduk.

* Gangguan mental menonjol.

q Laboratorium:

* ICS (jernih).

* Pleositosis (lympa berlebihan).

* Protein meningkat.

Meningitis Serosa (oleh TBC, Virus, Jamur)

ASKEP MENINGITIS

v Priorotas Keperawatan:

○ Memaksimalkan fungsi serebral dan perfusi jaringan.

○ Mencegah komplikasi atau trauma.

○ Menghilangkan ansiesitas atau memberi dukungan social pada pasien dan keluarga.

○ Nyeri menurun.

○ Memberi info tentang proses penyakit dan kebutuhan pengobatan.

v Diagnosa Keperawatan

○ Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan diseminata bakteri pathogen.

Intervensi:

q Tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan.

q Perhatikan tekhnik aseptic dan tekhnik cuci tangan yang tepat bagi pasien maupun pengunjung.

q Pantau dan batasi pengunjung.

q Pantau suhu secara teratur, catat munculnya tanda-tanda klinis adanya infeksi.

q Ubah posisi pasien secara teratur dan anjurkan untuk melakukan napas dalam.

○ Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi

Intervensi:

q Beri lingkungan yang tenang, agak gelap sesuai indikasi.

q Naikkan tirah baring.

q Kompres es di kepala.

q Kolaborsi, beri analgetik.

CEREBRO VASKULER ACCIDENT (CVA) ATAU STROKE

Merupakan penurunan secara tiba-tiba fungsi bagian otak akibat terputusnya aliran darah pada bagian tertentu di otak.

v Patofisiologi

Infer regular dibatang otak terjadi karena perdarahan arteri, sehingga suplai darah sampai ke daerah tersebut dan terjadilah anoksia dan hipoksia. Bila aliran darah ke otak berkurang sampai dengan 24-30 cc/100 gr, jaringan otak akan terjadi ischemia untuk jangka waktu lama dan bila otak hanya mendapat 16 cc / 100 gr jaringan otak, maka terjadilah infark jaringan otak yang permanent.

v Etiologi

○ Thrombus

○ Emboli

○ Hemorhagik

v Klasifikasi

○ Non hemorhagik stroke (nhs) emboli, thrombus

Gejala klinis:

q Gangguan virus, gangguan bicara, gangguan sensibilitas, gangguan kesadaran.

q Gerak anggota motorik tubuh kesisi yang berlawanan dengan gigi.

q Otak yang rusak (hemiplagia).

q Inkontinensia.

q Gangguan aktivitas mental psikologis — kemampuan belajar menurun, perhatian sempit, kesulitan pemahaman, non kooperatif, labil ke emosi.

○ Hemorhagik stroke (hs)

Faktor resiko:

q Hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, kolesterol tinggi.

q Perokok.

q Stress yang berkepanjangan.

v Diagnosa Keperawatan

○ Gangguan fungsi jaringan otak berhubungan dengan terputusnya aliran darah.

~ Tujuan: pasien menunjukkan tingkat kesadaran membaik.

~ Interfensi:

q Kaji penyebab menurunnya perfusi serebral.

q Monitor vital sign.

q Posisi sedikit lebih tinggi untuk mengurangi tekanan arteri.

○ Penurunan mobilitas fisik

~ Tujuan: pasien mendestrasikan kemampuan mobilisasi.

~ Interfensi:

q Kaji kemampuan fungsi motorik.

q Lakukan ROM exercise.

q Tinggikan anggota badan untuk mencegah odema.

q Motivasi pasien untuk mobolisasi.

○ Gangguan komunikasi

~ Tujuan: pasien menunjukkan kemampun komunikasi secar efektif.

~ Intervensi:

q Kaji derajat disfungsi bicara.

q Dengarkan kesalahan untuk percakapan.

q Gunakan alat bantu untuk komunikasi.

○ Evakuasi

~ Apakah pasien mengalami kemajuan dalam ADL.

~ Apakah klien menunjukkan kemampuan berkomunikasi.

~ Apakah pasien menunjukkan kemampuan tertinggi aktivitas motorik, visual dan bicara.

ASKEP MIGRAIN

Askep migrain nerupakan gangguan nyeri kepala ditandai dengan adanya serangan nyeri yang berkepanjangan dan tiba-tiba, disebabkan ketegangan emosional yang lama. Migrain biasanya suatu gejala penyakit dan dapat terjadi dengan atau tanpa adanya gangguan organic. Pada umumnya patofisiologinya karena vaskuler dan ketegangan.

v Gejala

○ Photopotim

○ Penglihatan ganda.

○ Mual, muntah

v Faktor pencetus

○ Stress

○ Emosional

○ Kesibukan

○ Cuaca panas

○ Menstruasi

○ Kelelahan fisik/mental

v Pembagian diagnostic

○ Rontgen kepala: mendeteksi fraktur dan penyimpangan struktur.

○ Rontgen sinus: konfirmasi sinusitis.

○ CT Scan: mendeteksi massa intracranial.

○ EEG: mencatatat kegiatan saat sakit kepala.

○ Fungsi limbal: untuk mengtahui sel-sel abnormal ada darah atau infeksi.

v Prioritas keperawatan

○ Meningkatkan kenyamanan pasien.

○ Mengembangkan cara menurunkan sakit kepala.

○ Memberi info tentang penyebab, tindakan pencegahan dan komplikasi.

v Diagnosa keperawatan

○ Nyeri berhubung dengan stress dan ketegangan

Intervensi:

q Kaji keluhan nyeri, catat intensitasnya, lokasi yang mmperburuk, meredakan.

q Obser adanya tanda-tanda nyeri non verb.

q Intruksikan pasien untuk melaporkan lokasi nyeri itu muncul.

q Tempatkan dalam ruangan yang agak gelap sesuai indikasi.

○ Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan rendahnya info

Intervensi:

q Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan factor predisposisi, misalnya: stress, emosi, suhu dll.

q Diskusikan tentang obat-obatan dan efek sampingnya.

q Instruksiklan pada pasien atau keluarga dalam melakukan program kegiatan. Misalnya, hal-hal yang memberikan rasa nyaman seperti masase.

q Diskusiklan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh.

q Anjurkan pasien atau keluarga untuk menyediakan waktu relaksasi.

q Anjurkan untuk menggunakan aktivitas otak dengan benar.

q Sarankan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan factor yang berhubungan atau presipitasinya.

q Berikan info tertulis atau semacam catatan petunjuk.

q Identifikasikan dan diskusikan resiko timbulnya bahaya yang tidak nyata dan terapi yang bukan terapi medis.

About these ads

About psychologymania

Praktisi Psikologi

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: